Blog ini untuk siapa saja yang tertarik dengan dunia marketing farmasi ethical,OTC, herbal dan alat kesehatan.
Thursday, 15 May 2014
Endoscopy – Aspek sejarah dan filosofinya
Monday, 12 May 2014
Perkembangan Teknologi Pencitraan Pemandu Pembedahan
Saturday, 10 May 2014
Beralih Karir di Industri Alat Kesehatan - Catatan Mengenai Industri Alat Kesehatan
- Sebagai penyalur/pedagang
- Sebagai produsen
- Sebagai penyedia jasa perbaikan
Friday, 9 May 2014
Reactivated
Saya sekarang tidak di dunia farmasi tapi masih di healthcare industry, tepatnya alat kesehatan bedah endoscopy - sudah 2 tahun. Maka sayapun punya ide untuk merubah blog ini menjadi yang lebih luas.
Mungkin sudah jalan Tuhan, saya termasuk yang Job Hopper. Saya pernah menjadi marketer rasanya hampir semua kelas terapi obat.
Oh ya, adventure saya yang lain adalah masa "missing link" di dunia farmasi yaitu ketika menggeluti bidang "scientific communication industry" dan "scientific medical writer" baik sebagai professional maupun free lance. Sayapun menjadi "medical ghost writer". Sehingga lengkap lah saya sebagai marketer di dunia health care
Banyak tambahan ilmu di bidang baru yang saya geluti sekarang, saya juga ingin membagi pengetahuan dan pengalaman saya di bidang baru sekarang ini. Sudah gatal ingin nulis karena sudah ada banyak ide yang ingin ditulis.
Maka dari itu saya merubah blog ini dan REACTIVATED
Juga saya buka saja siapa Kang Frankly ini sebenarnya...jika ingin tahu tulisan petama buat blog ini di linknya ini : http://marketing-farmasi-indonesia.blogspot.com/2007/04/kang-frankly-speaking.html
Jadi ke depan saya akan menulis dan mengaktifkan lagi di blog ini. Harapannya sama, semoga bermanfaat saja terutama yang muda-muda. Buat yang pengalaman...buat blog sendiri ya...
Mangga...
Saturday, 7 July 2007
E-detailing - Siapkah Kita?
Barangkali kita sudah tahu dan mahfum tentang kualitas detailing MR kita. Berbagai istilah baru bermunculan untuk seseorang yang secara professional disebut Medical Representatives dengan “tukang obat”, yang nawarin obat ke kastemer, pemburu tanda tangan kastemer. Istilah tersebut sering kita dengar dari pasien yang melihat MR kita duduk, mengantri menunggu giliran di tempat praktek kastemer, hanya untuk suatu kunjungan yang berlangsung antara 20 detik hingga hitungan menit.
Wah saya biasanya tidak bisa menerima kalau MR perusahaan saya disebut demikian. Bayangkan kalau kita merekrutnya, melatihnya membuat simulasi detailing dengan benar, menghabiskan sekian juta hingga siap dilapangan, ternyata hanya disebut pemburu tanda tangan kastemer.
Harus diakui memang, semuanya mungkin tidak jauh dari warna umum industri health care kita, warna umum industri farmasi yang merespon warna dari para penentu penulis resep. Walau demikian warna apapun itu, merupakan perpaduan dari warna-warna yang ada. Saya hanya akan membahas satu warna yang seharusnya menjadi dominan dan berlaku universal, yaitu detailing yang seharusnya atau idealnya termasuk diantaranya mengutip 2 artikel tentang cara modern dari detailing : e-detailing
Sebut saja di Amerika atau yang dekat Australia, yang sistimnya memungkinkan MR detailing yang sesuai dengan yang diajarkan, bahwa seorang MR menyediakan input edukasi yang berharga bagi kastemer. Walaupun MR juga merupakan orang sales, yang mempunyai tujuan utama mendapatkan penjualan, tetapi tidak harus mengklaim hal yang tidak realistis dari produknya untuk menciptakan penjualan.
Proses sales harusnya merupakan proses komprehensif seperti terlihat dalam figure dibawah ini

Seberapa banyakkah MR kita melakukan process sales ideal seperti diatas. Apakah setiap point sales yang didapat merupakan feedback dari proses ini?
Untuk dapat melakukan tugasnya dengan baik, seorang MR dibekali material marketing yang semuanya didesain untuk satu tujuan : untuk menjual produk! Materi tersebut termasuk materi untuk melakukan kinjungan face to face dengan kastemer dapat berupa :
Detail Aid (sales Aid)
Leave behinds
Product information sheets
Brand reminders
Kenyataannya di Indonesia kita sering melihat MR hanya menyiapkan Call Card, sambil berjalan bersama kastemer di lorong rumah sakit. Entah karena Product Manager (PM) yang harusnya menyiapkan materi tersebut tidak membuat, atau terlambat dibelakang jadwal siklus detailing atau budget sudah habis, lebih ekstrim lagi PM berpendapat semua itu useless (dia tidak sadar bahwa dia juga useless). Tetapi kenyataannya lagi di Indonesia material tersebut hanya menjadi tumpukan sampah daur ulang rumah sakit, klinik atau tempat praktek kastemer.
Materi tersebut diatas adalah salah satu dari sekian proses sales, yang menurut saya merupakan tahap penting, tahap dimana memberikan kastemer bukti tentang keunggulan atau manfaat produk kita serta jawaban atas kebutuhan dan atau keberatan kastemer. Pertanyaannya adalah apakah kualitas isi informasi dari material tersebut jelek sehingga dibuang atau memang minimnya minat ilmiah dari kastemer kita. Atau dua-duanya. Wallahualam… setahu saya belum pernaha ada survey tentang ini
Coba jika ada sebuah survey untuk menjawab pertanyaan apakah yang paling disukai kastemer dari materi yang diberikan melalui detailing MR jawaban yang disediakan dari ektrim tidak perlu hingga penting serta media yanag terbaik, mungkin akan lebih mengefisienkan atau paling tidak memberikan arah kepada kita dalam usaha detailing yang lebih efektif dan efisien.
Cobalah bercermin dari survey yang dilakukan di Amerika dan Canada yang saya ambil dari situs tertentu dibawah ini mengenai e-detailing.
Setahu saya hanya ada sedikit perusahaan di Indonesia yang telah melakukan e detailing baik di tingkat MR maupun tingkat manajer level pertama. Mereka dibekali oleh laptop lengkap dengan semua materinya.
Seize the “e” day.
Author: Lisa Roner,
The signs are clear: e-detailing, e-sampling – e-technologies in general – are something doctors are interested in and that the pharma industry can use to build stronger physician – and even patient relationships.
The online survey to date has 380 physician and medical professional respondents from the US and Canada. It’s no surprise that just more than 41% of those are OB-GYN physicians. The remaining respondents classify themselves as other medical professionals (36%), general and family practitioners (nearly 8%), residents and med students (5%), other MD specialists (4.5%) and other maternal fetal practitioners (5%).
Among the respondents, nearly 46% say they find themselves spending less time than in the past talking with pharma reps, while nearly 33% say they spend about the same amount of time they have in the past. More than 14% say they don’t see pharma reps at all.
Just over 50% say they have never participated in an online detail. Of those, 31% say they are interested in doing so, however.
When asked how they would most prefer to receive drug and product information, 43% cite the Internet with an option to request a face-to-face rep visit or samples. Twenty-six percent (26%) say they prefer face-to-face visits only, while 12% say they prefer the Internet only. Still others say they would like to use the Internet with an option to enter a real-time chat with a rep (9%) and a final group prefers the Internet with a phone-in number (9%).
Many medical professionals (34%) report they would need no enticement to participate in an e-detail if they are interested in the product, but an equal number say a coupon toward a free medical book or merchandise of less than $15 would be an adequate enticement.
The most important features (multiple answers allowed) of an e-detail according to survey participants are: the ability to get information at their own convenience (84%), the ability to find out about new treatment options (79%), the ability to get feedback and questions answered by the manufacturer (60%), the ability to get supporting opinion leader advice about the product (50%) and the ability to request a face-to-face rep visit (41%).
Among those surveyed, 53% say they would like to get more product information delivered via the Internet in the future. However, 34% say online details should support but not replace face-to-face details.
It’s clear that doctors see a role for e-detailing and other e-communication and service technologies in pharma’s future.
Maximizing sales effectiveness with e-detailing
Technology is quickly changing the pharma industry’s approach to both sales and marketing. And E-detailing is just one breakthrough that promises to improve customer relationships and reduce costs.
At eyeforpharma’s recent 5th Annual Marketing ROI for Pharma Congress in Amsterdam, Marianne Anderson, marketing manager for Pfizer in Denmark, outlined the results of an e-detailing pilot her group completed in conjunction with Boehringer Ingelheim to promote Spiriva. The pilot, she says, has given the group an enticing glimpse of the increases in effectiveness that can be gained when reps are empowered with e-tools for detailing.
In Denmark, like most other countries, Anderson says, sales reps are having a tougher time getting time with physicians and seeing fewer than ever before. And that she says pushed Pfizer and Boehringer to pursue the e-detailing pilot for Spiriva.
“We had some basic concerns and issues to address,” Anderson says. “First, we had a complicated and information-rich topic to communicate and we also had a need for focus and structure in our detailing.”
In addition, she says, the group wanted to improve the quality and consistency of the messages it delivered and needed to win the attention and interest of GPs. They also needed to achieve more frequent and longer interactions with doctors and wanted to provide messages in a way that meshed with doctors’ decision-making habits and information needs.
“We think we know what reps are doing out there, but often the dialog between reps and doctors doesn’t exist or is not happening in a structured way,” Anderson says. “We needed a tool that would allow us to be there.”
Before launching the pilot, however, she says, her group had to convince many within the organization of the potential of e-detailing. And there were many considerations to be taken into account, such as whether e-detailing was something physicians wanted and how to make it simple for the reps to deliver. Anderson’s group also needed to consider whether e-details would improve the effectiveness and quality of reps’ meetings with doctors, whether such an approach would catch the attention of GPs, and if the physicians would be willing to participate in a second, traditional detail afterwards.
Anderson says they also faced obstacles that included technical problems and getting the reps “on-board” with the approach and getting them trained. The team worked with Agnitio through a series of kick-off seminars and training to launch the four-week pilot and analysis.
The e-detailing presentation, Anderson says, made a complicated topic simple and had just four basic parts that demonstrated the problem to the physicians, explained what it means for patients, revealed how Spiriva addresses the problem and offered solutions for physicians.
To measure the success of the initiative, Anderson says, the group needed to consider the general receptiveness of physicians and reps to e-detailing and to examine the effects on sales performance
Each of the 400 GPs that participated in the pilot was asked to complete a questionnaire that assessed their experiences. And reps completed written questionnaires as well as short telephone interviews to report on successes and failures during the pilot.
SFI (Sales Force Impact) Monitoring also was used to record all e-details to document the length, time spent on specific topics and data that was of the most interest to the physicians.
Ninety-seven percent (97%) of the physicians felt the e-detail was superior to paper-based details for explaining complex issues and 95% rated the presentations as “good” or “very good”. Most participants (92%) also say they believe the e-detail provided a good overview of the topic and 89% report it was a faster method by which to obtain information. And 80% recommended that the companies should continue with their e-detailing efforts.
The results of the pilot were equally positive among reps. Anderson says all of the reps participating in the pilot found the e-details easy to use and navigate. Eighty percent (80%) of rep participants say the e-details allowed them to get more time with physicians and 60% said it made it easier to sell.
The reps also say they did not find the second detail more difficult to complete after the e-detail. Anderson says the reps became better at the e-details with time and that was highly motivating for those participating in the pilot.
“Reps had control of the communication and were able to achieve a more structured dialog with physicians,” she says. “We won the GPs attention with this and increased the convenience of the message.”
Reps, Anderson says, can tailor the presentation to the needs of individual physicians. And that, she says, gave reps a lot of confidence.
The group also saw a willingness among GPs to schedule follow-up meetings that Anderson says was a direct benefit of the e-details. She and her colleagues are already working on a second e-detailing pilot
“This is not rocket science,” she says. “You just must convince others within your own organization that this is worth doing. The resistance is within our own organizations – not with the doctors. Physicians are open to this; they are ready.”
Thursday, 14 June 2007
PROMINENT PERSON ’S WORDS REFLECT ON STRATEGIC MANAGEMENT

Saya membaca sekilas table of content dan scanning bab demi bab. Hal yang menarik saya - tentu saja selain mengingatkan pengetahuan saya, buku ini dilengkapi dengan kutipan kalimat dari orang-orang terkenal pada awal setiap babnya. Kutipan kalimat tersebut merefleksikan isi dari bab tersebut.
Pak David ini adalah Professor Emeritus di Haas School of Business, University of California, Barkeley. Gelar PhD dan Masternya diraih dari Stanford University.
Saya tidak membahas isi dari buku ini, silakan membaca bukunya, bahkan kalau tidak keberatan, siapapun anda saya ingin dipinjami dan ingin membaca edisi yang terbarunya
Silakan Anda merenungi, merefleksikan dalam pekerjaan dan kehidupan professional Anda.
Business Strategy
Plans are nothing, planning is everything – Dwight D Eisenhower
Where absolute superiority is not attainable, you must produce a relative one at the decisive point by making a skillful use of what you have – Karl von Clauswittz, On War, 1832
Strategic Management
Chance favors the prepared mind – Louis Pasteur
Far better an approximate answer to the right question, which is often vague, than an exact answer to the wrong question, which can always be precise – John Turkey, statistician
If you don’t know where you’re going, you might end up somewhere else. Case Stengel
External Anaysis
The purpose of an enterprise is to create and keep a customer – Theodore Levitt
Consumers are statistics. Customers are people – Stanley Marcus
Competitor Analysis
Induce your competitor not to invest in those products, markets and services where you expect to invest the most…that is the fundamental rule of strategy. Bruce Handerson – Founder of BCG
There is nothing more exhilarating than to be shot at without result – Winston Churchill
Market Analysis
As the economy, led by automobile industry, rose to new high level in the twenties, a complex of new elements came into existence to transform the market installment selling the used-car trade in, the closed body, and the annual model. Alfred P. Sloan, Jr., - General Motors
Imagining the future may be more important than analyzing the past. I daresay companies today are not resource-bound, they are imagination-bound. CK Prahalad, University of Michigan
Environment Analysis
There is something in the wind. William Shaespeare, The comedy of errors
A Poorly observed fact is more treacherous a faulty train of reasoning. Paul Valery, French philosopher
Internal Analysis
We have met the enemy and he is us. Pago
Self-conceit may lead to self destruction. Aesop, “the frog and the Ox”
The fish is last to know if it swims in water. Chinese proverb
Sustainable Competitive Advantage
Vision is the art of seeing things invisible. Jonathan Swift

All men can see the tactics whereby I conquer, but what none can see is the strategy out of which great victory is evolved. Sun-Tzu, Chinnese military strategist
Differentiation Strategies
If you don’t have a competitive advantage, don’t compete. Jack Welch, GE
The secret of success is constancy to purpose. Benjamin Diisraeli
Low Cost, Focus and Preemptive Move
Never follow the crowd. Bernard M. Baruch
The first man gets the oyster; the second man gets the shell. Andrew Carnegie
Penetration, Product-Market Expansion and Vertical Integration
Marketing should focus on market creation, not market sharing. Regis McKenna
Diversification
Tis the part of wiseman to keep himself today for tomorrow, and not venture all his eggs in one basket. Miquel de Carventes.
Put all your eggs in one basket and – WATCH THE BASKET. Mark Twain
Strategies Declining and Hostile Markets
Anyone can hold the helm when the sea is calm. Publilius Syrus
Where there is no wind, row. Portuguese proverb
Global Strategies
Most managers are nearsighted. Even though today’s competitive landscape often streches to a global horizon, they see best what they knowbest: the customers geographically closest to home. Kenichi Ohmae
A powerful force drives the world toward a converging commonality, and that force is technology….The result is a new commercial reality – the emergence of global markets for standardized consumer products on previously unimagined scale of magnitude. Theodore Levitt
My ventures are not in one bottom trusted, nor to one place. William Shakespeare, The Merchant of Veniche
Implementing the Strategy
The basic philosophy, spirit and drive of an organization have far more to do with its relative achievements than do technological or economic resources, organizational structure, innovation and timing. Thomas Watson, Jr., IBM
Structure follows strategy. Alfred D Chandlier, Jr.
Never acquire a business you don’t know how to run. Robert Johnson, Johnson & Johnson
Formal Planning Systems
Stetegic planning isn’t strategic thinking. One is analysis and the other is synthesis. Henry Mintzberg, McGill University
Those that implement the plans must make the plans. Patrick Hagerty, Texas Instruments
Monday, 4 June 2007
Beyond Discovering a New Drug
Obat Penurun Kolesterol Statin Orisinal di Indonesia.
PENDAHULUAN
Marketing redefined atau redefinisi marketing terjadi di industri manapun, Komponen utama “value” menjadi poros dari semua titik tolak. Mulai dari searching and creating the value, delivering the value, dan sustaining the value.
Di Industri Farmasi terutama yang berbasis riset, pencarian dan penemuan sebuah molekul baru, mau tidak mau harus berbasis redefinisi marketing ini. Diatas semua konsep, metodologi serta teknologi penemuan dan pengembangan ada banyak hal yang harus dipertimbangkan dan semuanya mengacu pada value yang akan dikembangkan. Apakah sebuah molekul penemuan baru tersebut mampu memberikan value yang lebih dari pemain yang ada di pasar? Dan bagaimana mengetahui hal tersebut? Beberapa perusahaan besar farmasi berbasis riset bahkan membuat team khusus yang dipimpin oleh orang berlatar belakang marketing. Team ini akan membuat dan menetapkan kriteria khusus berbasis pasar serta memutuskan arah pengembangan molekul baru tersebut..
Obat penurun kolesterol seperti : Pravastatin, Atorvastatin, Fluvastatin, Simvastatin dan Rosuvastatin, yang terkenal dengan sebutan statin, sangat menarik untuk diamati dalam hal perkembangan pasar dan pengembangan value yang diciptakan oleh produsen obat berbasis riset (original drug producer). Pencarian dan pengembangan value sangat erat kaitannya dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Pencarian dan pengembangan value dapat berdasarkan perkembangan ilmu medical basic science atau berdasarkan alur yang mengacu pada mekanisme patofisiologi. Dari mekanisme patofisiologi value dapat ditetapkan dan dikembangkan, kemudian dicari justifikasi dari segi basic sciencenya. Secara umum dapat dikatakan bahwa kedua-duanya dapat dilakukan.
Alasan lain untuk menelaah golongan obat ini adalah karena basic medical science yang mendasari penyakit jantung sangat banyak diteliti.Penyakit jantung merupakan penyakit yang saling terkait (komorbiditas) dengan penyakit lain dan digolongkan sebagai penyakit degeneratif yang berhubungan erat dengan gaya hidup modern di era globalisasi. Prevalensi penyakit ini pun secara market sangat menarik dan potensial.
TAHAPAN PENGEMBANGAN OBAT BARU
Tahap pengembangan obat baru dapat dibagi dalam 3 bagian besar: penemuan molekul, uji preklinis dan uji klinis. Pada tahap penemuan molekul, salah satu yang menjadi tahap penting adalah tahap memilih molekul yang akan dikembangkan lebih lanjut setelah melalui serangkaian uji coba. Sedangkan pada tahap uji preklinis yang termasuk tahap penting diantaranya adalah memprediksi, menentukan, serta menyeleksi efek farmakologi obat pada hewan percobaan.Uji meliputi cara kerja obat dan nasibnya dalam tubuh hewan percobaan kemudian mengekstrapolasikan dosis yang aman untuk manusia. Sampai pada tahap selanjutnya menguji efeknya terhadap manusia dengan uji klinis.
Uji klinis dikategorikan menjadi uji klinik pre marketing dan pos marketing. Paling tidak ada 3 fase dalam uji klinis premarketing yaitu:
- Uji klinik fase 1 merupakan tahapan awal obat baru diberikan kepada manusia sehat (10 – 100) dengan dosis tunggal ataupun multipel dengan durasi pendek, terutama untuk menyimpulkan efek keamanan obat pada manusia.
- Uji klinik fase 2 merupakan tahap pengujian efek obat pada 100 pasien yang mederita penyakit sesuai dengan indikasi obat yang diharapkan. Dilakukan dalam durasi beberapa hari atau bulan sesuai desain studi. Pada tahap ini tetap dilakukan monitoring keamanan obat.
- Uji klinik fase 3 merupakan tahap penting untuk pengumpulan data persyaratan registrasi. Dilakukan pada 1000 pasien di berbagai negara pada populasi pasien yang lebih kompleks atau pada populasi khusus seperti pasien lansia, pasien dengan berbagai penyakit penyerta, dll. Tujuan uji klinis adalah untuk menegakkan efikasi dan keamanan dari obat tersebut.
- Sedangkan uji klinis fase 4 termasuk dalam uji klinis post marketing, merupakan semua usaha uji klinis yang dapat dilakukan untuk menunjang data yang diperoleh dari fase sebelumnya atau juga untuk mencari data lain yang diperlukan untuk kebutuhan pasar dan memperluas pengetahuan produk. Uji dapat dilakukan pada berbagai jumlah dan jenis penyakit pasien yang mungkin berhubungan dengan obat tersebut.
PENYAKIT JANTUNG KORONER, KOLESTEROL DAN OBAT STATIN
Pada abad 15, Leonardo da Vinci pernah mengotopsi jenazah dengan penyempitan pembulah darah yang disebut dengan „excessive nourishment“ dari darah. Berbagai teori dugaan tentang ini berkembang di awal abad 19 sedangkan istilah penyempitan kemudian diberikan oleh Merchand pada tahun 1860 dengan istilah atheroschlerosis. Setelah itu baru diketahui bahwa komponen atheroschlerosis terutama adalah lemak yang kemudian pada penelitian-penelitian selanjutnya diketahui sebagai kolesterol.
Disadari makin banyak kasus serangan jantung pasca perang dunia kedua di negara Eropa dan Amerika, seiring dengan meningkatnya kesejahteraan pasca perang. Dilakukanlah penelitian epidemiologi untuk mencari hubungan kadar kolesterol dengan serangan jantung melalui penelitian Framingham (1950), Whithall, MRFIT (1986). Seluruh penelitan ini memang menunjukkan hubungan yang positif dan sampai sekarang teori ini masih dianut. Perkembangan terakhir yang justru menjadi ajang „pencarian value“ adalah penentuan hubungan tersebut secara kuantitatif, yang akan menjadi salah satu pembahasan pada tulisan ini.
Hypercholesterolemia atau hyperlipidemia adalah tingginya kadar kolesterol atau lemak didalam darah, bisa dengan atau tanpa gejala, tetapi merupakan faktor resiko terjadinya atherosklerosis, penyakit jantung koroner dan stroke. Kadar total kolesterol secara ideal adalah 140 sampai 200 miligram kolesterol per desiliter darah (mg/dL), sedangkan tingkat resiko moderat adalah 200 sampai 240 mg/dL dan resiko tinggi lebih dari 240 mg/dL. Jika ada obat yang dapat menurunkan kadar kolesterol maka akan menurunkan resiko serangan jantung. Bukti awal ini diperoleh dari penelitian tentang obat penurun kolesterol non statin.
Sejak awal tahun 1970 penelitian tentang metabolisme kolesterol telah dimulai. Hal ini ditandai dengan ditemukannya reseptor, ligand dan enzim yang terlibat dalam metabolisme, sesuai dengan perkembangan ilmu biomolekuler.
Penemuan suatu enzim bernama HMG CoA Reductase dan reseptor kolesterol LDL, membuat perkembangan penelitian pengobatan serangan jantung semakin pesat. Enzim HMG CoA Reductase berperanan besar dalam pembentukan kolesterol dalam sel. Dan reseptor LDL berfungsi „menangkap“ kolesterol LDL (low density lipoproteins) yang termasuk jenis kolesterol jahat ini dari darah untuk dibawa ke dalam sel. Jika sel kekurangan kolesterol, maka reseptor ini diaktifkan untuk „menangkap“ kolesterol dalam darah. Kolesterol LDL disebut jahat, karena densitasnya yang sangat rendah dapat diendapkan dan tertarik kedalam bagian „intima“ pembuluh darah yang menyebabkan terjadinya plaque atau „plak“ atherosklerosis dalam pembuluh darah. Plak dapat pecah, terlepas dari dinding pembuluh darah dan dapat menyumbat pembuluh darah. Jika hal ini terjadi pada pembuluh darah di jantung maka pasien akan mendapatkan serangan jantung.
Dari perkembangan ini dimulai sejarah penggunaan obat penghambat enzim HMG CoA reductase yang disebut dengan obat–obatan golongan STATIN. Statin dapat menghambat pembentukan sintesis kolesterol terutama yang dominan di sel-sel hati, dengan demikian sel-sel tersebut akan mengaktifkan reseptor LDL untuk menangkap LDL yang beredar dalam darah. Kadar kolesterol dalam darah pasien secara teori akan mengalami penurunan jika menggunakan obat ini.
PENYAMPAIAN VALUE
Secara konvensional, seperti yang sering dilakukan oleh perusahaan farmasi berbasis riset, penyampaian value dilakukan melalui edukasi berupa promosi ilmiah berbentuk seminar, diskusi kelompok, lokakarya maupun presentasi individual melalui Medical Representative, yang secara rutin mengunjungi dokter.
Belakangan ini, karena penyakit serta faktor resikonya sangat berhubungan erat dengan gaya hidup modern dan mereka yang terdiagnosa adalah masyarakat menengah keatas yang berpindidikan baik (A dan B), serta digolongkannya penyakit ini dalam penyakit kronik (menahun) yang peranan pasien sangat dominan dalam konsumsi dan kepatuhan terhadap pengobatan, maka perusahaan farmasi mulai melakukan edukasi langsung kepada masyarakat melalui internet, radio berupa talkshow, seminar awam, pemeriksaan kolesterol gratis melalui laboratorium klinik ataupun print ad untuk awam.
PENGAMATAN MENCIPTAKAN DAN MEMPERTAHANKAN VALUE
PADA MULANYA .... Berbasis Manfaat Klinis
Menurunkan kolesterol berarti menurunkan faktor resiko serangan jantung. Bermula dari pernyataan inilah value obat statin mulai dikumandangkan. Pertama obat statin di „benchmark” terhadap obat non statin dengan memberikan bukti-bukti melalui pengujian klinis.
Bristol Myers Squibb (BMS), perusahaan farmasi Amerika yang secara simultan menghasilkan berbagai bukti klinis dari brand nya Pravastatin, sebagai pembeda dari obat statin lain. Dimulai dengan penelitian WOSCOPS, sebuah penelitian prevensi primer pertama, yaitu pencegahan sebelum terjadinya serangan jantung pada pasien dengan hypercholesterolemia. Kemudian penelitian prevensi sekunder, yaitu penelitian pencegahan serangan jantung berikutnya pada pasien yang telah terkena serangan jantung, dengan penelitian CARE dan LIPID. Dua penelitian terakhir ini menempatkan Pravastatin sebagai statin pertama yang memperoleh indikasi untuk pencegahan sekunder.
Tiga penelitian besar dilakukan oleh BMS yang melibatkan hampir 20 ribu pasien baik yang belum ataupun pasien yang sudah terkena serangan jantung dilakukan untuk mendiferenssiasi dari Atorvastatin - Pfizer yang datang dengan value yang lain. Lihat figure 1.

Figure 1. Pravastatin. Penelitian bukti manfaat klinis. Dapat menurunkan resiko kejadian, kematian (serangan jantung), resiko serangan pertama serangan jantung, resiko kejadian ulang serangan jantung, resiko dilakukan kardio angioplasty (balon) dan bedah bypass, resiko serangan stroke dan resiko kematian karena serangan jantung tidak fatal.
Persaingan Sekarang... Reducing Cholesterol Aggressively “The Lower is the better”
Atorvastatin dengan sifat penurunan yang lebih kuat dari Pravastatin yang moderat, memanfaatkan persepsi „kolesterol makin turun, makin baik“- the lower is the better. Persepsi „Kekuatan“ penurunan kolesterol ditonjolkan pada berbagai segmen pasien untuk mencapai tujuan penurunan sebagaimana yang ditetapkan oleh NCEP (National Cholesterol Education Program), sebuah badan penyuluh tentang kolesterol di AS yang menetapkan „petunjuk“ untuk tatalaksana kolesterol dan penyakit terkait. Lihat Figure 2.
Figur 2. Atorvastatin. Kekuatan daya penurunan Atorvastatin.
Kekuatan ini yang hanya berdasarkan pengukuran parameter laboratorium, yaitu berupa turunnya kadar kolesterol darah , memang telah diantisipasi oleh Pravastatin sebagai tidak bermanfaat, sebelum ada bukti klinis bahwa penurunan tersebut memberikan proteksi pencegahan serangan jantung baik primer maupun sekunder. Lihat figure 3.

Figure 3. Pravastatin. Untuk melindungi pasien dariserangan jantung tidak hanya sesederhana memodifikasi lipidnya. Bukti manfaat klinis lebih penting
Kemudian memang Atorvastatin mempunyai penelitian di prevensi sekunder dengan nama MIRACL, yang membuat brand ini bertambah pesat penjualannya. Bukti klinis pertama Atorvastatin ini benar-benar dimanfaatkan dan menjadikannya sebagai pemimpin pasar.
“Beyong Lipid Lowering” and Atherosclerosis Stabilization
Persepsi „kekuatan“dengan menurunkan kadar kolesterol secara agresif memang benar tertanam di benak pelanggan. Pravastatin dan Fluvastatin yang „moderat“ dalam daya penurunannya, mencari jalan lain dengan suatu basis pertanyaan : „Mengapa dengan penurunan yang moderatpun seperti Pravastatin memperlihatkan bukti manfaat klinis dapat menurunkan resiko terjadinya serangan pertama (prevensi primer) dan serangan kedua (prevensi sekunder)?“. Mungkinkah ada „sesuatu“ selain penurunan lemak, dibalik bukti manfaat klinis yang belum terjawab dari segi basic medical science. Figure 4

Figure 4. Pravastatin dan Fluvastatin. Beyond lipid lowering. Tidak hanya modifikasi lipid
Persepsi „beyond lipid lowering“ dan „Plaque (atheroschlerosis) Stabilization“ kemudian dibangun oleh baik Pravastatin maupun Fluvastatin. Penelitian-penelitian penunjang lain untuk menjawab pertanyaan diatas kemudian dilakukan.
Berdasarkan penelitian-penelitian yang dilakukan terjawab secara cepat bahwa jenis plak atherosklerosis ada yang stabil dan tidak stabil. Pravastatin dan Fluvastatin berhasil membuktikan dapat menstabilkan/memperkuat jenis plak atherosklerosis yang tidak stabil.
BMS juga mencoba membedakan Pravastatin dengan statin lain dengan meneliti sifat selain modifikasi lipid, diantaranya memperkuat sel otot polos pembuluh darah pada lokasi plak atherosclerosis sehingga plak tidak mudah pecah/lebih stabil, mempunyai efek antiinflamasi yang berefek pada faktor pembekuan darah sehingga tidak terjadi gumpalan darah beku yang menyumbat pembuluh darah disekitar atherosklerosis dan lain lain.
Yang dilakukan Leschol sama dengan Pravastatin pada efek inflamasi. Tetapi kemudian Leschol juga mengikuti persepsi “Kekuatan” dengan meluncurkan Fluvastatin XL (Extended Release), dengan kandungan zat aktif yang lebih besar (80mg), dan juga pada stabilisasi plak atherosklerosis. Lihat figure 5.

Figure 5. Lescol. Kekuatan dan memperuat aterosklerosis (beyond lipid lowering)
Pembuktian Terakhir?
Kontroversi pada ukuran kuantitatif mengenai besarnya kadar kolesterol yang harus diturunkan untuk meminimalkan resiko serangan jantung, merupakan pembuktian terakhir dari perang persepsi “kekuatan” melawan “beyond lipid lowering”. Figure 6a.

Figure 6a. Mempertanyakan secara kuantitative hubungan penurunan kolesterol dengan resiko serangan jantung.
Penelitian-penelitian yang mengacu pada pembuktian ini telah dilaksanakan yaitu PROVE IT, TNT (Treating to New Target) dan IDEAL (Increment Decrease in Endpoints Through Aggressive Lipid Lowering)
PROVE IT (PRavastatin Or atorVastatin Evaluation and Infection Therapy) sebuah penelitan “head to head” antara Pravastatin 40 mg dan Atorvastatin 80 mg. TNT membandingkan Atorvastatin 10 mg vs 80 mg, dan IDEAL membandingkan Atorvastatin 80 mg dan Simvastatin 20-40mg. Figure 6b dan 6c.

Figure 6b. Mampukah Pravastatin “menyamai” manfaat klinis Atorvastatin, dengan target penurunan kolesterol hanya 30 % dibandingkan Atorvastatin 45%

Figure 6c. Hasil Penelitian PROVE IT yang memperkuat persepsi “the lower is the better”
Hasil dari penelitian PROVE IT ditambah satu penelitian HPS (Heart Protection Study) yang menggunakan Simvastatin menghasilkan standar baru dalam pemakaian statin yang terdokumentasi dalam petunjuk NCEP ATP III. Guideline ini menyarankan tingkat kolesterol LDL harus dikurangi dibawah 100mg/dL sampai 70 mg/dL, pada pasien terutama yang beresiko tinggi untuk serangan jantung.
Dengan hasil penelitian ini, apakah merupakan akhir dari statin dengan kemampuan moderat? Dan apakah hal ini menjadi standar baru bagi industri farmasi bahwa untuk mendapatkan statin baru harus memenuhi persyaratan mempunyai kekuatan yang lebih aggresive atau paling tidak sama dengan tambahan value lain yang dapat digali lebih jauh?
Lahirnya Rosuvastatin dan respon Atorvastatin.
Benar adanya bahwa standar baru telah diciptakan sekaligus diantisipasi oleh masing-masing pemain. Adalah Astra Zeneca, yang mengembangkan molekul baru Rosuvastatin untuk menantang sang pemimpin Atorvastatin. Lihat figure 7a.

Figure 7a. Penantang “kekuatan” Atorvastatin, diluncurkan
Sebagai “challenger” yang mengikuti standar, Rosuvastatin berhasil untuk sementara menundukkan sang pemimpin. Dari profil kekuatan penurunan lipid, Rosuvastatin berhasil membuktikan kekuatan yang luar biasa mengalahkan Atorvastain (Figure 7b.), hal ini terbukti dengan pencapaian sales yang fantastis beberapa bulan setelah diluncurkan.

Figure 7b. Bukti penelitian superioritas Crestor terhadap Atorvastatin
Jauh sebelum Rosuvastatin diluncurkan, atau saat rosuvastatin dikembangkan dan dalam tahap fase klinis, Atorvastatin telah mengantisipasinya untuk mendiferensiasi dengan penantangnya.
Penelitian ASCOT, adalah salah satu usaha itu. Sebuah studi yang dengan cerdiknya didesain tidak hanya terfokus hanya pada pasien dengan populasi hiperkolesterol tetapi “dicampur” dengan populasi pasien dengan kadar kolesterol normal tetapi dengan penyakit penyerta lain yaitu hipertensi.
Penelitian ASCOT berhasil membuat diferensiasi antara sesama statin dengan kekuatan dahsyat. Atorvastatin berhasil membedakan kekuatan yang mempunyai bukti klinis, dibandingkan dengan Rosuvastatin yang saat di luncurkan belum mempunyai bukti klinis dengan penelitian besar, baru mempunyai bukti penurunan kolesterol secara laboratorium pada ribuan pasien (efektifitas dan keamanan). Lihat figure 8.

Figure 8. Diferensiasi Atorvastatin terhadap Cresto
Bagaimana Nasib Statin Moderat?
Bagimanapun persepsi “kekuatan” tetap merupakan standar. ”Lifecycle plan yang dilakukan oleh statin moderat hanya pada batas yang minimal, termasuk diantaranya “line extension” dengan sediaan dosis lebih besar, Pravastatin dengan dosis 40 mg (biasa 10 sampai 20 mg) dan Fluvastatin dengan line extension XL 80 mg.
Efek keamanan juga tetap diisukan oleh statin-statin yang moderat ini, sekedar untuk memperlambat erosi market share mereka. Lihat figure 9.

Figure 9. Persepsi Safety dari Pravastatin. Usaha untuk memperlambat erosi
Persaingan masa depan
Persepsi kekuatan dan tambahan nilai lain akan terus dikembangkan oleh statin kuat yang ada maupun yang akan muncul nanti. Tambahan nilai lain dapat berupa pegembangan penelitian penunjang lain dengan memvariasikan populasi pasien dengan penyakit penyerta lain yang berhubungan dengan penyakit jantung dan faktor resikonya, baik penelitian yang bersifat head to head ataupun membandingkan dengan plasebo.
Kesimpulan
Mengamati obat statin memberikan suatu wacana bagaimana industri farmasi modern dikembangkan. Obat Statin yang secara farmakologi adalah satu kategori pada dasarnya mempunyai profile dan cara kerja yang mirip. Dengan usaha-usaha penelitan baik dari “basic medical science” hingga penelitian klinis, sebuah obat dapat membuat suatu lompatan besar yang membedakannya dari obat yang lain walaupun dalam satu kategori dan dapat menciptakan standar baru bagi ditemukannya molekul yang baru ditemukan baik dari satu kategori ataupun di luar kategor tersebut.